Syahrulariefx's Blog

Januari 13, 2011

RIM Bawa Server ke Indonesia, Apa Untungnya?

Filed under: Uncategorized — syahrulariefx @ 2:26 am

Pro dan kontra terkait rencana pemblokiran layanan BlackBerry di Indonesia masih menjadi topik hangat. Inisiatif pemerintah untuk mendesak Research In Motion (RIM), perusahaan penyedia layanan BlackBerry dari Kanada, tak disangka menuai banyak respons dari masyarakat.

Bagi Anda yang tidak atau belum menggunakan BlackBerry tentu lebih tenang. Anda tidak merasa khawatir akan rugi kalau pun layanan BlackBerry jadi diblokir.

Tetapi, jika Anda salah satu dari 3 juta pengguna BlackBerry di Indonesia, mungkin isu pemblokiran ini cukup mengejutkan. Sejumlah fitur pada ponsel pintar itu tidak akan bisa dipakai lagi dan tidak lebih dari sekadar fitur “pajangan”. Misalnya, BlackBerry Messenger dan e-mail.

Keputusannya tinggal lima hari lagi. Tepatnya, hari Senin, 17 Januari 2011. Di hari tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akan bertemu secara resmi dengan pihak RIM untuk mendiskusikan isu seputar layanan BlackBerry, termasuk rencana filterisasi konten porno, pembangunan server, beban biaya hak pemakaian (BHP) telekomunikasi, dan lainnya.

Lantas, apa untung dan ruginya jika RIM menempatkan server di Indonesia?

Untuk diketahui, akhir minggu lalu, muncul delapan tuntutan yang disodorkan kepada RIM di laman Twitter milik Menkominfo Tifatul Sembiring, yaitu:

Pertama, meminta RIM agar menghormati & mematuhi Peraturan Perundangan yang berlaku di Indonesia, terkait UU 36/1999, UU 11/2008 dan UU 44/2008.

Kedua, meminta RIM agar membuka perwakilan di Indonesia, karena pelanggan RIM di Indonesia untuk Blackberry sudah lebih dari 2 juta. (link berita)

Ketiga, meminta RIM membuka service center di Indonesia untuk melayani dan memudahkan pelanggan mereka yang WNI. (link berita)

Keempat,meminta RIM agar merekrut dan menyerap tenaga kerja Indonesia secara layak dan proporsional.

Kelima,  meminta RIM agar sebanyak mungkin menggunakan konten lokal Indonesia, khususnya mengenai software.

Keenam, meminta RIM agar memasang software blocking terhadap situs-situs porno, sebagaimana operator lain sudah mematuhinya.

Ketujuh, meminta RIM agar bangun server di Indonesia, agar aparat hukum dapat lakukan penyelidikan terhadap pelaku kejahatan, termasuk koruptor.

Kedelapan, sejauh ini terkesan RIM mengulur-ulur waktu untuk menjalankan komitmen mereka. Apakah kita sebagai bangsa mau diperlakukan seperti itu?

Mengacu pada data di atas, permintaan pemerintah di poin kedua, ketiga, dan keempat telah dipenuhi RIM sejak tahun 2009 dan 2010. Namun, ada beberapa permintaan pemerintah yang sampai saat ini belum digubris oleh RIM, yaitu menempatkan server di Indonesia dan membayar Bea Hak Pakai (BHP) telekomunikasi.

Memudahkan Proses Hukum

Pimpinan KPK Kunjungi VIVAnews : Haryono UmarBagi negara, pembangunan server RIM di Indonesia akan berdampak besar bagi kepentingan proses hukum, terutama dalam proses penyelidikan, termasuk mengakses data pelaku kejahatan.

Menurut Wakil Ketua KPK, Haryono Umar, saat dihubungi VIVAnews kemarin, dengan kehadiran server RIM itu, KPK dapat lebih terbantu dalam menelusuri pembicaraan orang-orang yang diduga melakukan transaksi tindak pidana korupsi. “Ini juga dapat memudahkan para penegak hukum lainnya untuk berkoordinasi,” ujarnya.

Namun, pada kesempatan lain, Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang juga membidangi informasi, TB Hasanuddin mengatakan, posisi server di mana itu tidak terlalu penting.

“Bisa di Indonesia, negara asal RIM di Kanada, atau di negara lain. Yang penting, bagaimana penegak hukum bisa mengakses data itu. Sekali pun penegak hukum harus terbang ke Kanada,” kata TB Hasanuddin dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, kemarin. “Sekalipun server-nya di ujung dunia, kalau bisa diakses untuk kepentingan publik, ya silakan saja.”

Akses Internet melalui BlackBerry Lebih Cepat

BlackBerry Internet ServicesAnggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan pengguna BlackBerry akan segera merasakan dampaknya langsung di sisi tarif. Kenapa bisa menjadi lebih murah?

Sebagaimana diketahui, dia memaparkan, tarif langganan BlackBerry yang dibayarkan operator kepada RIM secara rata-rata adalah US$4, atau sekitar Rp36.000, per satu pelanggan per bulan.

“Operator-operator penyedia layanan BlackBerry menetapkan tarif langganan di kisaran Rp100 ribu. Nah, tarif ini tak cuma mencakup komponen yang dibayarkan pada RIM sebesar US$4, tetapi juga termasuk membayar sewa bandwidth internasional dan laba untuk operator,” Heru menjelaskan.

Namun, jika server RIM ditempatkan di Indonesia, dia memperkirakan, tarif yang terpangkas bisa sampai 30 persen. “Karena ada beberapa komponen pembayaran bisa diminimalisir, terutama biaya pemakaian bandwidth internasional,” tandas Heru.

“Angka 30 persen ini adalah maksimal. Bisa variatif. Pasalnya, komponen pembayaran masing-masing operator untuk sewa bandwidth internasional dan untuk RIM berbeda-beda. Ada yang lebih murah dan lebih mahal,” imbuhnya.

Selain tarif, dampak penempatan server pada pelanggan adalah akses data atau Internet yang lebih cepat, terutama dalam mengakses konten lokal. “Selama ini, untuk membuka situs lokal saja, trafik data pelanggan harus ke luar negeri dulu. Asumsinya, trafik pelanggan harus ke Kanada dulu karena kantor pusat mereka ada di sana. Otomatis pelanggan harus menunggu lebih lama,” ujar Heru.

“Jika dibangun server lokal, akses ke konten-konten lokal akan lebih cepat dan ringan. Selain itu, di sisi operator pun lebih efisien karena ada biaya yang terpangkas, yakni pemakaian link bandwidth internasional,” ujarnya, menutup pembicaraan.

Menambah Kontribusi ke Pendapatan Negara

Ilustrasi Uang 3Dia juga mengkategorikan RIM sebagai penyelenggara jasa Internet dan multimedia. Artinya, vendor BlackBerry ini sejajar dengan penyelenggara jasa Internet atau ISP lokal yang tergabung di dalam APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia).

“ISP dan operator, sebagai penyelenggara Internet dan multimedia, dikenakan BHP telekomunikasi sebesar 0,5 persen dan pungutan USO (universal service obligation) untuk pembangunan Desa Berdering dan Internet sebesar 1,25 persen dari gross revenue. Selama ini, mereka memenuhi kewajiban tersebut,” ujar Heru.

“Tetapi, kami belum tahu apakah kewajiban RIM sudah termasuk ke dalam kewajiban operator yang dibayarkan pada negara selama ini. Ini masih kami dalami. Kalau belum, mereka terpaksa harus membayar BHP frekuensi juga. Mereka tidak bisa memposisikan diri sebagai server center saja,” jelasnya.

Menurut Heru, pungutan berupa BHP frekuensi adalah hal yang wajar. Dengan asumsi harga rata-rata sebuah perangkat BlackBerry adalah Rp2,5 juta, dikali 3 juta pelanggan, sekitar Rp7,5 triliun sudah dikantungi RIM selama berada di Indonesia.

Angka tersebut belum termasuk biaya langganan BlackBerry Internet Service (BIS) yang totalnya diperkirakan mencapai kurang lebih Rp1 triliun per tahun. “Mereka dengan bebas selama ini memakai frekuensi milik negara melalui mitra operator. Tapi, kontribusi mereka pada negara apa?” Heru mempertanyakan.

Belum lagi, pajak badan usaha yang harus dipenuhi PT RIM Indonesia. Seperti diketahui, RIM telah membuka kantor di Indonesia sekitar akhir September tahun lalu. Meski baru berusia tiga bulan, Heru mengatakan, RIM tetap harus melapor. “Mereka pasti wajib melapor ke kantor pajak. Mereka kan punya karyawan dan layanan BlackBerry yang sudah berjalan di Indonesia,” ucapnya.

dikutip dari vivanews, kamis 12 januari 2011

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: